This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Publikasi. Show all posts
Showing posts with label Publikasi. Show all posts

Nov 1, 2011

Kabupaten Paser Dalam Angka


Kabupaten Paser merupakan wilayah Propinsi Kalimantan Timur yang terletak paling selatan, tepatnya pada posisi 00 45'18,37" - 20 27'20,82" LS dan 1150 36'14,5" -1660 57'35,03" BT. Kabupaten Paser terletak pada ketinggian yang berkisar antara 0 - 500 m di atas permukaan laut. Di sebelah utara, Kabupaten Paser berbatasan dengan Kabupaten Kutai Barat, di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Penajam Paser Utara dan Selat Makasar, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Kota Baru, Propinsi Kalimantan Selatan, serta di sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Tabalong, Propinsi Kalimantan Selatan.

Luas Wilayah Kabupaten Paser saat ini adalah 11.603,94 km2, terdiri dari 10 Kecamatan dengan 106 buah Desa/Kelurahan dan empat buah UPT (Unit Pemukiman Transmigrasi), serta dengan jumlah penduduk pada tahun 2003 mencapai 172.608 jiwa, atau memiliki kepadatan penduduk 15 jiwa/Km2. Kecamatan dengan wilayah terluas di Kabupaten Paser adalah Kecamatan Long Kali, dengan luas wilayah 2.385,39 km2, termasuk di dalamnya luas daerah lautan yang mencapai 20,50 persen dari luas wilayah Kabupaten Paser secara keseluruhan, sedangkan kecamatan yang luas wilayahnya terkecil adalah Kecamatan Tanah Grogot, yang mencapai 33,58 Km2 atau 2,89 persen.

Download Kabupaten Paser Dalam Angka

Penajam Paser Utara Dalam Angka


Kabupaten Penajam Paser Utara merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Paser, sesuai dengan diterbitkannya UU No.7 Tahun 2002 tanggal 10 April 2002 tentang “Pembentukan Kabupaten Penajam Paser Utara”. Kabupaten Penajam Paser Utara terletak antara 00048’29” - 01036’37” Lintang Selatan dan 116019’30” - 116056’35” Bujur Timur.

Berdasarkan UU No.7 Tahun 2002, luas wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara adalah 3.333,06 Km2, yaitu terdiri dari 3.060,82 Km2 luas darat dan 272,24 Km2 luas lautan. Adapun kecamatan yang terluas adalah Kecamatan Penajam yaitu 36,22% , sedangkan kecamatan terkecil adalah Kecamatan Babulu dengan luas 11,99% luas Kabupaten Penajam Paser Utara.

Pada awal erbentuknya Kabupaten Penajam Paser Utara pada tahun 2002, Kabupaten ini mempunyai 4 wilayah Kecamatan, yaitu Kecamatan Babulu, Kecamatan Waru dan Kecamatan Penajam serta Kecamatan Sepaku. Dari empat kecamatan tersebut terdapat 46 Desa/Kelurahan.

Download PPU Dalam Angka

PDRB Kabupaten Malinau


Publikasi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Menurut Penggunaan Tahun 2005-2009 adalah serial dari publikasi sebelumnya yang diterbitkan secara berkala oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Malinau bekerjasama dengan Bappeda Kabupaten Malinau.

Dalam publikasi ini, selain ulasan singkat penghitungan PDRB Penggunaan juga disajikan tabel-tabel PDRB menurut penggunaan, laju pertumbuhan ekonomi, persentase distribusi
penggunaan atas dasar harga berlaku dan konstan yang merupakan indikator ekonomi makro.

Dengan diterbitkannya publikasi ini diharapkan akan membantu pihak perencana dan analisis baik di Pemerintah Kabupaten Malinau maupun pihak swasta.

Download PDRB Malinau

Malinau Dalam Angka


Kabupaten Malinau merupakan salah satu daerah hasil pemekaran wilayah Kabupaten Bulungan berdasarkan Undang- Undang Nomor 47 Tahun 1999 dimana wilayahnya terletak di bagian utara sebelah barat Propinsi Kalimantan Timur; berbatasan langsung dengan Negara Jiran yaitu Negara Bagian Serawak di sebelah Barat.


Kabupaten Malinau dengan luas wilayah 39.799,90 Km2 secara astronomis terletak antara 114° 35' 22" sampai dengan 116° 50' 55" Bujur Timur dan 1° 21' 36" sampai dengan 4° 10' 55" Lintang Utara.

Adapun batas-batas Kabupaten Malinau yaitu Sebelah Utara dengan Kabupaten Nunukan, Sebelah Timur dengan Kabupaten Tana Tidung dan Bulungan, Sebelah Selatan
dengan Kabupaten Kutai Barat, Sebelah Barat dengan Negara Malaysia Timur- Serawak.

Selengkapnya Download Malinau Dalam Angka

Sosial Ekonomi Kalimantan Timur (KALTIM) dan Indikator Penting lainnya


Publikasi ini disajikan secara bulanan untuk melengkapi informasi yang datanya diperoleh secara bulanan, triwulanan, dan semesteran seperti; inflasi, ekspor/impor, pertumbuhan ekonomi dsbnya. Disamping itu juga dilengkapi dengan informasi penting lainnya yang datanya baru tersedia pada bulan-bulan berjalan dimana publikasi ini diterbitkan.


Publikasi ini juga bertujuan untuk melihat dan mengevaluasi kinerja pembangunan di segala bidang termasuk bahan evaluasi RPJMD, LPPD, LKPJ, dan sistem informasi profil daerah, serta kebutuhan evaluasi dan perencanaan lainnya.

Selengkapnya silahkan download disini

May 14, 2011

Jadual Test SNMPTN & Prediksi Soal SNMPTN


Bagi agan-agan yang saat ini akan menginjak bangku perkuliahan tentunya terlebih dahulu akan mengikuti test SNMPTN dengan target tentunya agar dapat diterima sebagai mahasiswa dari Perguruan Tinggi Negeri favorit pilihan agan-agan sekalian.
Pada tahun-tahun sebelumnya SNMPTN dijadikan sebagai satu-satunya sistem seleksi kepada calon mahasiswa yang dilaksanakan secara serentak dan terpadu oleh semua perguruan tinggi negeri di Indonesia.

Pada tahun ini seleksi masuk perguruan tinggi terdiri dari 2 (dua) cara yaitu jalur undangan berdasarkan penjaringan prestasi akademik dan jalur test tertulis/ketrampilan.
Dalam SNMPTN setiap mata ujian akan dinilai berdasarkan peringkat dengan skala 0 (nol) sampai seratus. oleh akrena itu setiap soal jangan sampai ada yang diabaikan karena hal tersebut bisa saja merupakan penentu kelulusan dalam test SNMPTN agan sekalian.

okech dah cukup basa-basinya berikut ini ane sediakan jadwal proses step by step pelaksanaan SNMPTN 2011 yaitu sebagai berikut :

1. 1 Februari - 12 maret 2011 pendaftaran SNMPTN jalur undangan.
2. 21 maret - 9 april 2011 proses seleksi pilihan 1 di PTN masing-masing.
3. 15 - 16 April 2011 penetapan hasil seleksi tahap 1.
4.18 mei - 7 mei proses seleksi pilihan II di PTN masing-masing.
5. 13 - 14 mei 2011 Penetapan hasil seleksi akhir jalur undangan.
6. 18 mei penetapan hasil akhir jalur undangan.
7. 31 mei - 1 juni Registrasi SNMPTN jalur undangan.
8. 2 - 24 mei 2011 Pandaftaran SNMPTN jalur tertulis/keterampilan.
9. 31 mei - 1 juni 2011 Pelaksanaan ujian tertulis.
10. 3 - 4 juni 2011 Pelaksanaan ujian ketrampilan.
11. 30 Juni 2011 Pengumuman hasil SNMPTN jalur tertulis/ketrampilan.
12. Juli 2011 Penerimaan mahasiswa baru jalur lokal masing-masing PTN.

berikut ane sediain juga prediksi soal-soal yang seperti apa yang akan di test dalam test SNMPTN nanti. (bukan bocoran loh tapi cuma prediksi atau bayangan sekedar untuk latihan biar kaga kagok pas ujian nanti)

A. Test Potensi Akademik (TPA) download disini.

B. Test Mata Pelajaran Bidang Studi Dasar.
1. Mata Pelajaran Matematika Dasar point A download disini
2. Mata Pelajaran Matematika Dasar point B download disini
3. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia point A download disini
4. Mata
Pelajaran Bahasa Indonesia point B download disini
5. Mata Pelajaran Bahasa Inggris point A download disini
6. Mata Pelajaran Bahasa Inggris point B download disini

C. Test Mata Pelajaran Bidang Studi IPA
1.
Mata Pelajaran Matematika IPA point A download disini
2. Mata Pelajaran Matematika IPA point B download disini
3. Mata Pelajaran Fisika point A download disini
4. Mata Pelajaran Fisika point B download disini
5. Mata Pelajaran Kimia point A download disini
6. Mata Pelajaran Kimia point B download disini
7. Mata Pelajaran Biologi point A download disini
8. Mata Pelajaran Biologi point B download disini

D. Test Mata Pelajaran Bidang Studi IPS
1.
Mata Pelajaran Sejarah point A download disini
2. Mata Pelajaran Sejarah point B download disini
3. Mata Pelajaran Geografi point A download disini
4. Mata Pelajaran Geografi point B download disini
5.
Mata Pelajaran Ekonomi point A download disini
6.
Mata Pelajaran Ekonomi point B download disini
7.
Mata Pelajaran Sosiologi point A download disini

Kutai Kertanegara Dalam Angka


Buku Kutai Kartanegara Dalam Angka pada dasarnya adalah sebagai gambaran dari
hasil kebijaksanaan pembangunan yang ada, dilain pihak juga merupakan evaluasi kegiatan pembangunan yang selanjutnya diperlukan untuk perencanaan dan kebijaksanaan pembangunan yang akan datang.



Publikasi “Kutai Kartanegara Dalam Angka 2010” ini merupakan serial dari publikasi tahun sebelumnya yang diterbitkan secara berkala oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kutai Kartanegara. Publikasi ini dimaksudkan untuk memberikan data akurat dan lengkap yang merupakan gambaran dan perkembangan perstatistikan di daerah ini.

Dalam penyusunan buku Kutai Kartanegara Dalam Angka ini, data yang dihimpun selain bersumber dari data primer juga bersumber dari data sekunder, baik dari instansi pemerintah maupun swasta. Seperti halnya pada publikasi terdahulu, setiap tahunnya selalu diupayakan perbaikan angka-angka pada tabel-tabel yang disajikan, demikian pula pada publikasi ini. Selain dari pada itu, juga terdapat penambahan dan pengembangan data guna melengkapi isi dan validitas data sesuai dengan dinamika pembangunan dan pemerintahan.

Download Kukar Dalam Angka

Apr 3, 2011

Kutai Barat Dalam Angka

Dalam penyusunan buku Kutai Barat Dalam Angka ini, data yang di himpun selain bersumber dari data primer juga bersumber dari data sekunder, baik dari instansi pemerintah maupun swasta. Seperti halnya pada publikasi terdahulu, setiap tahunnya selalu diupayakan perbaikan angka-angka pada tabel-tabel yang disajikan, demikian pula pada publikasi ini. Selain daripada itu, juga terdapat penambahan dan pengembangan data guna melengkapi isi dan validasi data sesuai dengan dinamika pembangunan dan pemerintahan.

Dalam penyusunan buku Kutai Barat Dalam Angka ini, data yang di himpun selain bersumber dari data primer juga bersumber dari data sekunder, baik dari instansi pemerintah maupun swasta. Seperti halnya pada publikasi terdahulu, setiap tahunnya selalu diupayakan perbaikan angka-angka pada tabel-tabel yang disajikan, demikian pula pada publikasi ini. Selain daripada itu, juga terdapat penambahan dan pengembangan data guna melengkapi isi dan validasi data sesuai dengan dinamika pembangunan dan pemerintahan.

Download :
Kubar
PDRB Kubar
Suseda Kubar

Berau Dalam Angka

Publikasi Berau Dalam Angka 2009 merupakan sumber informasi untuk berbagai kebutuhan perencanan dan merumuskan kebijakan pembangunan yang diterbitkan secara berkala oleh BPS Kabupaten Berau. Data yang diterbitkan pada buku ini bersumber dari data primer dan sekunder yang berasal dari instansi pemerintah maupun swasta.
Melalui publikasi ini, pembaca akan mendapatkan data dari berbagai sektor dan sub sektor di Kabupaten Berau diantaranya :
Geografi, Iklim, Pemerintahan, Penduduk, Sosial, Pertanian, Industri, Perdagangan,
Perhubungan, Keuangan Dan Harga, Konsumsi, PDRB

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Berau

Download
BDA 1
BDA 2
BDA 3

Mar 24, 2011

Balikpapan Dalam Angka

Publikasi “Balikpapan Dalam Angka 2010” ini merupakan serial dari publikasi tahun sebelumnya yang diterbitkan secara berkala oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Balikpapan. Publikasi ini dimaksudkan untuk memberikan data akurat dan lengkap yang merupakan gambaran dan perkembangan perstatistikan di daerah ini. Dalam penyusunan buku Balikpapan Dalam Angka ini, data yang dihimpun selain bersumber dari data primer juga bersumber dari data sekunder, baik dari instansi pemerintah maupun swasta. Seperti halnya pada publikasi terdahulu, setiap tahunnya
selalu diupayakan perbaikan angka-angka pada tabel-tabel yang disajikan, demikian pula pada publikasi ini. Selain dari pada itu, juga terdapat penambahan dan pengembangan data guna melengkapi isi dan validitas data sesuai dengan dinamika pembangunan dan pemerintahan.
download BALIKPAPAN DALAM ANGKA

Apr 8, 2009

Monografi Kota Surakarta

Kota Surakarta terdiri dari 5 kecamatan seluas keseluruhan 44,04 km2 dengan jumlah
penduduk sesuai sensus tahun 2000 sejumlah 490.214 jiwa. Kecamatan yang mempunyai luas wilayah paling besar yaitu Kecamatan Banjarsari (14,81 km2) sedangkan kecamatan yang mempunyai luas paling kecil yaitu Kecamatan Serengan. Wilayah kecamatan dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi terdapat di Kecamatan Pasar Kliwon (915.418 jiwa/km2) dan terendah terdapat pada Kecamatan Laweyan (10.127 jiwa/km2). Secara umum kota Surakarta merupakan dataran rendah dan berada antara pertemuan kali/sungai-sungai Pepe, Jenes dengan Bengawan Solo, yang mempunyai ketinggian ±92 dari permukaan air laut.

Keraton, batik dan Pasar Klewer adalah tiga hal yang menjadi simbol identitas Kota Surakarta. Eksistensi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Pura Mangkunegaran (sejak 1745) menjadikan Solo sebagai poros, sejarah, seni dan budaya yang memiliki nilai jual. Nilai jual ini termanifestasi melalui bangunan-bangunan kuno, tradisi yang terpelihara, dan karya seni yang menakjubkan. Tatanan sosial penduduk setempat yang tak lepas dari sentuhan-sentuhan kultural dan spasial keraton semakin menambah daya tarik. Salah satu tradisi yang berlangsung turun temurun dan semakin mengangkat nama daerah ini adalah membatik. Seni dan pembatikan Solo menjadikan daerah ini pusat batik di Indonesia. Pariwisata dan perdagangan ibarat dua sisi mata uang, dimana keduanya saling mendukung dalam meningkatkan sektor ekonomi.

Secara geografis wilayah Kota Surakarta berada antara 110º45’15”- 110º45’35” BT dan
7º36’00”- 7º56’00”LS dengan luas wilayah 44,04 Km² dengan batas-batas sebagai
berikut :
Batas Utara : Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali
Batas Selatan : Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar
Batas Timur : Kabupaten Sukoharjo
Batas Barat : Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar

Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk

Jumlah penduduk Kota Surakarta pada tahun 2002 sebanyak 554.630 jiwa. Dalam kurun waktu 5 tahun dari tahun 1998 sampai tahun 2002, jumlah penduduk Kota Surakarta mengalami kenaikan yang cukup nyata. Pada tahun 1998, penduduk Kota Surakarta berjumlah 539.387 jiwa, dan menjadi 554.630 jiwa pada akhir tahun 2002. Pertumbuhan penduduk rata-rata adalah 0,74%. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2001,
yaitu sebesar 1,3%, sedangkan pertumbuhan terendah sebesar 0,18% terjadi pada tahun 2002.

download pdf

Monografi Kota Pariaman


                                       Download file pdf


Monografi (Profil Kota Serang)

Serang merupakan ibu kota Kabupaten Serang dan menjadi Ibu Kota Propinsi Banten
terdiri dari 4 kecamatan (Kecamatan Serang, Kecamatan Cipocok Jaya, Kecamatan
taktakan dan Kecamatan Kasemen). Wilayah Kota Serang memiliki luas 188,70 km²
dengan jumlah penduduk 347.042 jiwa (21,27 % dari jumlah penduduk Kabupaten
Serang).

Secara geografis wilayah Kabupaten Serang terletak diantara 5°50' - 6°21' Lintang Selatan dan 105°7' 106°22' Bujur Timur. Batas-batas wilayah administrasi Kabupaten Serang, adalah sebagai berikut :
• Sebelah Utara : Laut Jawa
• Sebelah Timur : Kabupaten Tangerang
• Sebelah Selatan: Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak
• Sebelah Barat : Kotamadya Serang dan Selat Sunda

Secara umum wilayah Kabupaten Serang berada pada ketinggian kurang dari 500 meter dpl dan tersebar pada semua wilayah. Kemiringan tanah atau lereng selain mempengaruhi bentuk wilayah juga mempengaruhi tingginya perkembangan erosi.

Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk

Penduduk Kota Serang berdasarkan dari Statistik Serang 2003 berjumlah 347.042 jiwa. Luas wilayah 2.492 Ha maka kepadatan penduduknya 112 jiwa/ Ha. Dari data kependudukan di atas maka Kota Serang dapat digolongkan dalam kelas kota sedang, dimana berdasar kriteria BPS mengenai kelas kota, Kota Sedang adalah Kota dengan jumlah penduduk antara 100.000 sampai 500.000 jiwa.

download complete file

Apr 3, 2009

Monografi Kota Bandung

Kota Bandung yang terletak di wilayah Jawa Barat dan merupakan Ibukota Propinsi Jawa Barat. Lokasi Kota Bandung cukup strategis, dilihat dari segi komunikasi, perekonomian maupun keamanan Iklim Kota Bandung dipengaruhi oleh iklim pegunungan yang lembab dan sejuk. Temperatur rata-rata 23,10 C, curah hujan rata-rata 204,11 mm, dan jumlah hari hujan rata-rata 18 hari per bulannya (keadaan tahun 2001).

Dominasi penggunaan lahan di kota Bandung adalah tanah pekarangan dengan prosentase 56,76% atau seluas 9.487 Ha. Lahan sawah seluas 1.290 Ha atau 12,73%. laut (dpl), titik tertinggi di daerah Utara dengan ketinggian 1.050 meter dan terendah di sebelah Selatan 675 meter di atas permukaan laut. Di wilayah Kota Bandung bagian selatan sampai lajur lintasan kereta api, permukaan tanah relatif datar sedangkan di wilayah kota bagian Utara berbukit-bukit yang menjadikan panorama indah.

Keadaan geologis dan tanah yang ada di Kota Bandung dan sekitarnya terbentuk pada jaman kwarter dan mempunyai lapisan tanah alluvial hasil letusan Gunung Tangkuban Perahu. Jenis material di bagian utara umumnya merupakan jenis andosol, di bagian selatan serta di bagian timur terdiri atas sebaran jenis alluvial kelabu dengan bahan endapan liat. Di bagian tengah dan barat tersebar jenis tanah andosol.

Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk

Jumlah penduduk Kota Bandung tahun 2002 adalah sebanyak 1.868.542 jiwa. Pertumbuhan penduduk rata-rata dari tahun 1997 adalah 1,65%. Pertumbuhan penduduk tertinggi adalah pada tahun 2000 dan pertumbuhan penduduk minus terjadi pada tahun 2001.

Tenaga Kerja

Menurut Laporan Departemen Tenaga Kerja, 15.235 penduduk Kota Bandung tercatat sebagai pencari kerja tahun 2001, sedangkan lowongan kerja yang tersedia sebanyak 2.851 orang dan jumlah penempatan hanya untuk 1.854 orang saja. Dari data tahun 2001, lapangan sektor usaha utama mampu menampung 826.620 tenaga kerja yang terdiri dari 541.880 tenaga kerja laki-laki dan 284.740 tenaga kerja perempuan. Sektor ekonomi yang mampu menyerap tenaga kerja terbesar yaitu sektor perdagangan (286 ribu tenaga kerja), diikuti sektor industri (204 ribu tenaga kerja).

download files

Mar 21, 2009

Struktur Sosial


Struktur sosial dipahami sebagai suatu bangunan sosial yang terdiri dari berbagai unsur pembentuk masyarakat. Unsur-unsur tersebut saling berhubungan satu dengan yang lain dan fungsional. Artinya kalau terjadi perubahan salah satu unsur, unsur yang lain akan mengalami perubahan juga.

Unsur pembentuk masyarakat dapat berupa manusia atau individu yang ada sebagai anggota masyarakat, tempat tinggal atau suatu lingkungan kawasan yang menjadi tempat dimana masyarakat itu berada dan juga kebudayaan serta nilai dan norma yang mengatur kehidupan bersama tersebut. Tiap unsur tersebut akan membentuk sistem atau pola hubungan yang menjadi roh dari struktur tersebut sekaligus menunjukan dinamika sosial yang terjadi didalamnya. Hubungan antar individu menghasilakan pola-pola hubungan yang ada, dalam bentuk status dan peran masing-masing. Hubungan anatara individu dan kelompok akan memunculkan proses sosialisasi dan juga pola interaksi yang ada. Sementara hubungan antara manusia dengan lingkungannya akan menimbulkan kebudayaan baik yang bersifat material maupun kebudayaan material. Pola hubungan-hubungan yang terjdi dari berbagai unsure kehidupan masyarakat ini akan menjadi ciri dari masyarakat mereka sendiri yang mungkin berbeda dengan masyarakat lainnya.
Koentjaraningrat ( 1983:175) menjelaskan bahwa struktur sosial adalah kerangka yang dapat menggambarakan kaitan berbagai unsur dalam masyarakat. Sementara itu Soeleman B, Taneko (1983:12) menjelaskan bahwa struktur sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok yakni kaidah-kaidah sosial, lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok sosial serta lapisan-lapisan sosial.
Jika struktur sosial diibaratkan sebagai sebuah gedung bertingkat tiga, dan atap gedung tersebut adalah kebudayaan masyarakatnya, maka atap tersebut tidak saja sebagai atap bangunan gedung paling atas, melainkan juga atap bagi lantai dua dan laintai satu juga. Bangunan sosial ini dapat kokoh berdiri karena adanya pola hubungan sosial yang terjadi di dalamnya. Pola tersebut adalah hubungan individu dengan individu, hubungan individu dengan kelompok dan hubungan kelompok dengan kelompok yang ada. Pola hubungan ini akan berlangsung di bawah norma dan nilai yang mereka sepakati bersama. Misalnya dalam bangunan gedung di atas, pintu dan jendela memiliki fungsi yang berbeda, pintu dan jendela sebagai norma yang mengatur perilaku penghuninya. Jika dia memasuki ruangan tertentu dalam gedung tersebut mereka akan menggunakan pintu sebagai jalan mereka memasuki ruangan dan bukan melalui jendela, walaupun jendela dekat dengan posisi berdiri seseorang yang akan memasuki ruangan.dan mereka bisa memasuki ruangan melalui jendela, akan tetapi hal ini tidak lazim atau tidak sesuai dengan peraturan atau nilai dan norma yang ada dalam masyarakat.
Demensi Struktural ada dua macam yaitu demensi vertical dan demensi horizontal. Demensi vertical akan melihat masyarakat secara bertingkat. Jika itu bangunan gedung di atas adalah tembok dengan lantai-lantainya dengan tangga sebagai penghubung antara lantai yang ada. Sebagai kenyataan sosial demensi vertical akan nampak pada stratifikasi sosial, kelas sosial dan status sosial dalam masyarakat. Apakah seseorang berada pada lapisan atas, menengah atau bawah dan apakan dia termasuk pada orang yang berada dikelas atas, menengah atau bawah adalah wujud dari demensi struktur sosial secara vertical.
Demensi horizontal biasa disebut sebagai deferensisasi atau ketidaksamaan sosial; yaitu suatu pembedaan sosial secara horizontal dalam arti perbedaan-perbedaan tersebut tidak mengandung perbedaan secara bertingkat, melainkan berbeda saja satu dengan lainnya. Perbedaan tersebut walaupun dikatakan tidak mengandung unsur perbedaan secara vertical, namun dalam masyarakat sering muncul penilaian yang memandang perbedaan tersebut dengan demensi vertical.
Misalnya pekerjaan, adalah bermacam-macam dan pada hakekatnya pekerjaan di dasarkan kepada nilai kemanusiaan yang sama yaitu bekerja untuk pemenuhan nafkah bagi diri dan keluarga. Jenis pekerjaan yang ada dapat berbeda, tetapi hakekatnya adalah sama dalam memenuhi nilai kemanusiaan tersebut. Timbul demensi vertical manakala orang membandingkan pekerjaaan tersebut dari beberapa aspek, seperti penghasilanya yang diperoleh, sifat pekerjaannya kasar atau halus; membutuhkan banyak tenaga atau banyak pikiran. Pandangan demikian akan menyebabkan pekerjaan sebagai unsure deferensiasi social memiliki demensi vertical. Contoh pekerjaaan sebagai Pegawai Negeri Sipil akan lebih dihargai dari pada pekerjaan sebagai petani ddemikian juga pekerjaan yang sama misalnya pegawai negeri akan dibedakan berdasarkan jabatan yang dimiliki. Misalnya staff akan berbeda penghargaanya dengan kepala bangunan.


Mengacu pada pengertian struktur sosial menurut Kornblum yang menekankan pada pola perilaku yang berulang, maka konsep dasar dalam pembahasan struktur adalah adanya perilaku individu atau kelompok. Perilaku sendiri merupakan hasil interaksi individu dengan lingkungannya yang didalamnya terdapat proses komunikasi ide dan negosiasi.

Pembahasan mengenai struktur sosial oleh Ralph Linton dikenal adanya dua konsep yaitu status dan peran. Status merupakan suatu kumpulan hak dan kewajiban, sedangkan peran adalah aspek dinamis dari sebuah status. Menurut Linton (1967), seseorang menjalankan peran ketika ia menjalankan hak dan kewajiban yang merupakan statusnya. Tipologi lain yang dikenalkan oleh Linton adalah pembagian status menjadi status yang diperoleh (ascribed status) dan status yang diraih (achieved status).

Status yang diperoleh adalah status yang diberikan kepada individu tanpa memandang kemampuan atau perbedaan antar individu yang dibawa sejak lahir. Sedangkan status yang diraih didefinisikan sebagai status yang memerlukan kualitas tertentu. Status seperti ini tidak diberikan pada individu sejak ia lahir, melainkan harus diraih melalui persaingan atau usaha pribadi.

Social inequality merupakan konsep dasar yang menyusun pembagian suatu struktur sosial menjadi beberapa bagian atau lapisan yang saling berkait. Konsep ini memberikan gambaran bahwa dalam suatu struktur sosial ada ketidaksamaan posisi sosial antar individu di dalamnya. Terdapat tiga dimensi dimana suatu masyarakat terbagi dalam suatu susunan atau stratifikasi, yaitu kelas, status dan kekuasaan. Konsep kelas, status dan kekuasaan merupakan pandangan yang disampaikan oleh Max Weber (Beteille, 1970).

Kelas dalam pandangan Weber merupakan sekelompok orang yang menempati kedudukan yang sama dalam proses produksi, distribusi maupun perdagangan. Pandangan Weber melengkapi pandangan Marx yang menyatakan kelas hanya didasarkan pada penguasaan modal, namun juga meliputi kesempatan dalam meraih keuntungan dalam pasar komoditas dan tenaga kerja. Keduanya menyatakan kelas sebagai kedudukan seseorang dalam hierarkhi ekonomi. Sedangkan status oleh Weber lebih ditekankan pada gaya hidup atau pola konsumsi. Namun demikian status juga dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti ras, usia dan agama (Beteille, 1970).

Berbagai kasus yang disajikan oleh beberapa penulis di depan dapat kita pahami sebagai bentuk adanya peluang mobilitas sosial dalam masyarakat. Kemunculan kelas-kelas sosial baru dapat terjadi dengan adanya dukungan perubahan moda produksi sehingga menimbulkan pembagian dan spesialisasi kerja serta hadirnya organisasi modern yang bersifat kompleks. Perubahan tatanan masyarakat dari yang semula tradisional agraris bercirikan feodal menuju masyarakat industri modern memungkinkan timbulnya kelas-kelas baru. Kelas merupakan perwujudan sekelompok individu dengan persamaan status. Status sosial pada masyarakat tradisional seringkali hanya berupa ascribed status seperti gelar kebangsawanan atau penguasaan tanah secara turun temurun. Seiring dengan lahirnya industri modern, pembagian kerja dan organisasi modern turut menyumbangkan adanya achieved status, seperti pekerjaan, pendapatan hingga pendidikan.

Teori inkonsistensi status telah mencoba menelaah tentang adanya inkonsistensi dalam individu sebagai akibat berbagai status yang diperolehnya. Konsep ini memberikan gambaran bagaimana tentang proses kemunculan kelas-kelas baru dalam masyarakat sehingga menimbulkan perubahan stratifikasi sosial yang tentu saja mempengaruhi struktur sosial yang telah ada.

Apabila dilihat lebih jauh, kemunculan kelas baru ini akan menyebabkan semakin ketatnya kompetisi antar individu dalam masyarakat baik dalam perebutan kekuasaan atau upaya melanggengkan status yang telah diraih. Fenomena kompetisi dan konflik yang muncul dapat dipahami sebagai sebuah mekanisme interaksional yang memunculkan perubahan sosial dalam masyarakat.





Mar 3, 2009

The Sociology of Sociology

In this recent history of British sociology, Andrew Halsey suggests an
intriguing connection between political economic régimes in the twentieth
century and the development of sociology as an academic discipline, dividing
British sociology into four periods, 1900-1950, 1950-1967, 1968-1975, and
1975-2000. In this way, by connecting.....disciplinary developments with
contemporaneous régimes of economic regulation, Halsey begins to outline
a sociology of sociology. However, although much of Halsey’s book is informative,
especially his description of the period from 1950-1967 when he
personally entered the discipline, Halsey ultimately fails to develop his sociology
of the discipline sufficiently, especially after 1967. Although it does not
claim to be comprehensive, this essay attempts to develop Halsey’s sociology
of the discipline.
Keywords: British sociology; social theory; twentieth century

download complete file




Feb 8, 2009

ETHICAL, LEGAL AND SOCIO-ECONOMIC ASPECTS OF AGRICULTURE, FISHERIES AND FOOD BIOTECHNOLOGY

At the time the 4th Framework Programme was in preparation the growing recognition of the importance of biotechnology for innovation, growth and employment in Europe was reflected in initiatives aimed to regulate and support the bioindustry and enhance applications needed in agriculture, health care and the environment. The European Commission’s Biotechnology programme (1994-1998), provided the framework to reinforce the European science base in biotechnology, and create the links between that science base and established companies while promoting the formation of small firms. The biotechnology programme mobilized research and various actors to meet the needs of European citizens as competitiveness and quality of life must go hand in hand

A similar process aimed at improving food quality processes and developing environmental friendly agricultural practices was taking place in the parallel R&D programme FAIR (Food Agro Industry Research – 1994/1998). The ELSA (Ethical Legal Social Aspects) approach, which is a common research subarea for the above programmes, dealt with ethical, social and legal issues raised by specific
applications of biotechnology, agricultural, food and fisheries production systems, etc; ensuring that these aspects were taken into account in public policy deliberations. Both the Biotechnology and the FAIR programmes supported projects investigating the real and potential socio-economic impacts of research in the agricultural, food and food biotechnology areas. Some projects dealt with social expectations and public communication strategies, contributing to the public debate. The projects that were considered relevant in the context of this catalogue are presented in the following pages. A total budget of roughly 8 million Euros has been spent on these projects.

download file

ANNOTATED BIBLIOGRAPHY ON THE ECONOMIC AND SOCIO-ECONOMIC IMPACT OF AGRICULTURAL BIOTECHNOLOGY IN DEVELOPING COUNTRIES

Background
Assessment of the economic, social and environmental impact of new technologies, such as those used in agricultural biotechnology, is crucially important for both researchers and policy-makers. Impact studies can help policy-makers identify the most effective and cost-effective strategy to tackle specific social and economic problems. At the same time, impact assessments can help scientists as well as decision-makers in governments and international organisations set priorities and efficiently allocate limited resources for agricultural research. In this manner, social benefits in terms of poverty eradication and sustainability can be maximized. Impact studies are of particular importance in agricultural biotechnology, where choices have to be made regarding whether, and how much, to invest in technologies such as genetic engineering or marker-assisted selection.
While there is a growing literature on the impact of genetically modified organisms (GMOs), there is little information available on the impact of non-GMO biotechnologies. This bibliography brings together a wide range of assessments of the economic and socio-economic impact of agricultural biotechnology (both GMO and non-GMO) in developing countries. Due to the limited availability of literature on the impact of biotechnology applications in other sectors, it focuses on crop biotechnology but also includes a small number of studies on forestry and livestock.
The studies included utilize economic, socio-economic, sociological and anthropological methodologies. Both ex ante and ex post impact assessments are covered.
The bibliography is organized as follows: The first section (I) contains important publications on methodologies for impact assessment, the second (II) is devoted to studies on non-GMO biotechnologies, and the third section (III) contains sources on GMOs. Within each section, the publications are generally listed by year of publication. In order to keep similar publications together, however, this order is not strictly followed. An index at the end of the document allows to search for publications by author, crop, country and keyword.
Comments on this bibliography are very much welcome, as well as suggestions for new references. Please send your input to SDRR-portal@fao.org.
Acknowledgements
This bibliography has been compiled by Lucius Mayer-Tasch, FAO intern, under the supervision of Zephaniah Dhlamini and Andrea Sonnino, FAO, Research and Technology Development Service. The contributions of Lauren Ritcher and Terri Raney, FAO, Comparative Agricultural Development Service, are gratefully acknowledged. The web version of the document has been prepared by Francisco López Martín. Lucius Mayer-Tasch’s internship was funded through the Carlo Schmid Programme for Internships in International Organisations by the German Academic Exchange Service (DAAD) and the German National Academic Foundation.

download file


Feb 7, 2009

MORAL EKONOMI PEDAGANG TRADISIONAL DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI EKONOMI

Pasar merupakan merupakan satu institusi sebagai arena peraktik transaksi ekonomi berlangsung, dan telah ada sejak manusia mulai mengenal pertukaran dalam pemenuhan hidupnya. Seiringan dengan perkembangan yang dialami masyarakat, pasar mengalami perkembangan, dan dewasa ini dikenal ada dua jenis pasar : pasar tradisional dan pasar modern. Kedua jenis pasar ini memiliki karakter dan pelaku yang realatif berbeda meski tak jarang keduanya berjalan seiring.

Pasar tradisional merupakan ajang transaksi komoditas kebutuhan subsiten yang prosesnya dan modelnya masih diwarnai dengan ekonomi pedesaan dengan tradisi-tradisi lama dengan aktor pedagang tradisional (subsistent economy). Pasar serupa ini termasuk dalam kategori sektor ekonomi informal. Sementara pasar modern merupakan ajang peraktek ekonomi perkotaan yang sangat berbeda dan diwarnai oleh sain dan teknologi modern, baik dari komoditas, aktor bahkan proses dan aturan mainnya.
Pada pasar tradisional dalam perakteknya diwarnai oleh tradisi yang sangat kental dengan nilai-nilai dan norma-norma etika tradisi sehingga tak jarang muncul berbagai macam diliema-dilema rasionalitas ketika bertemu dua pelaku pasar (penjual dan pembeli) dengan kepentingan yang berbeda. Kondisi dilematis pedagang dalam pasar tradisional berada pada upaya mengakumulasi keuntungan dan desakan sosial harus dermawan dan berbudi agar tidak di cap sebagai pedagang yang yang rakus dan kikir. Untuk mengatasi hal ini berbagai strategi digunakan sehingga keuntungan terpenuhi sementara masyarakat konsumen tetap dipuaskan. Simbol-simbol moralitas dan religius bermain, hingga pada harga yang yang diatur oleh tawar menawar yang oleh Geerzt disitilahkan Sliding price system (sistem harga luncur) bagi pedagangan jawa.
Sebagai jalan keluar, Pedagang dalam tataran mikro, mencari keuntungan ekonomis selalu bermain dengan kekaburan informasi yang berhubugan dengan tingkat/nilai jual yang tidak tetap, tapi dengan model harga luncur (sliding price system) (Geerzt, 1992:33) yang membuka ruang tawar menawar. Yang bermain di sini adalah kelihaian memanipulasi informasi secara efektif dalam celah-celah ketidak tahuan harga, antara yang terlalu tinggi dan yang terendah (Geerzt, 1992:34). Sementara pada tataran makro pedagang berbenturan dengan kesempatan akses di pasar yang berada di tangan penguasa pasar (pedagang besar) yang memiliki modal dan akses (kelompok minoritas atau seperti yang dikatakan oleh Evers dengan Kelompok Strategis (Evers, 1992). Menjadi sangat menarik untuk dilihat bagaimana moral yang dibangun pedangan tradionnal dewasanya untuk terus survival, dan bagaimana mereka memaknai perilaku mereka sendiri.
Berangkat dari hal di atas, maka pembahasan dalam tulisan singkat ini diarahkan pada persoalan yang berkaitan dengan ”moral ekonomi pedagang tradisional”, dengan pokok masalah sebagai berikut :
1.Bagaimanakah interaksi sosial dan ekonomi di pasar Angso Duo Jambi ?
2.Budaya ekonomi (economic culture) dan nilai apakah yang mengatur hubungan sosial di pasar Angso Duo Jambi ?
3.Bagaimana strategi peroleh melepaskan diri dari dilema ?.
Masalah-masalah tersebut dipakai sebagai pemandu untuk mengungkap nilai-nilai yang mendasari perilaku sosial ekonomi pedagang tradisional, strategi untuk survive dan moral ekonomi yang mereka bangun di Pasar Angso Duo Jambi. Dengan membongkar persoalan di atas diharapkan akan diketahui nilai yang berlaku dan pemaknaan-pemaknaan para pedagang tradisional di Pasar Angso Duo Jambi terhadap keadilan dan kedemawanan.
Sistimatka tulisan kecil terdiri dari :
1.Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, rumusan masalah dan tujuan pembahasan.
2.Perspektif Sosiologi Ekonomi yang berisi pembahasan tentang pemikiran dan perspektif sosiologi ekonomi dari beberapa Tokoh Sosiologi.
3.Pembahasan Kasus “Moral Ekonomi Pedagang Tradisional”.
4.Diakhiri dengan kesimpulan

download artikel

MENDEFINISIKAN EKONOMI

Apakah yang dimaksud dengan ekonomi? Menuju definisi awal

Berawal dari pemaknaan atas gejala ekonomi seagai gejala bagaimana orang atau masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya terhadap jasa dan barang langka di sebuat dengan fenomena ekonomi, dan ini berkaitan dengan semua aktifitas orang dan masyarakat yang berhubungan dengan produksi, distribusi, pertukaran dan konsumsi jasa-jasa dan barang-barang langka.
Swedberg (1987) mengusulkan bahwa fenomena ekonomi meliputi banyak hal yang oleh Holton (1992) dibuat daftar berupa

Konsumsi Produksi
Produksi dan Inovasi teknologi
Pasar
Kontral
Uang
Tabungan
Organisasi ekonomi (bank, perusahaan asuransi, koperasi.
Kehidupan tempat bekerja
Pembagian kerja dan segregasi pekerjaan
Kelas ekonomi
Ekonomi Internasional
Ekonomi dan masyarakat luas termasuk pemerintah, gerakan sosial, dan nilai budaya
Dampak dari faktor gender dan etnik terhadap ekonomi
Kekuatan ekonomi
Ideologi ekonomi

Secara historis istilah ekonomi dan ekonomic berasal dari yunani yaitu oikos dan Oikonomia, yang merujuk pada rumah tangga inti. Oikos dalam masa lalu dapat di kategorikan sebagai unit basis sistem sosial, dimana rumah tangga merupakan ekonomi, budaya, dan lembaga politik, dan kepemilikan laki-laki merupakan pondasi politik dan otoritas kekuasaan patriarchal. Type institusi (lembaga) semacam ini berbeda dengan konsep ekonomi dalam dua hal, yaitu : Pertama, ia merupakan kombinasi dari fungsi sosial, termasuk politik, dan urusan budaya sepanjang ketetapan ekonomi. Berbeda dengan kecendrungan modern untuk menghasilkan institusi khusus ekonomi. Kedua, target ekonominya tidak meliputi pertukaran (exchange) dengan rumah tangga yang lain melalui mekanisme seperti barter, pasar dan yang lebih maju. Kemudian berlawanan dengan sistem pertukaran ekonomi modern. Oleh itu harus melihat ke tepat lain untuk menjawab apa itu ekonomi?.
Pendekatan yang lebih luas yang digunakan dalam mendefiniskan ekonomi untuk mengidentifikasi capain fungsi sosial yang spesifik, terpisah dari fungsi lain yang bukan fungsi ekonomi. Strategi yang terkemuka dalam hal ini adalah mengadakan pemisahan antara ends (tujuan) dengan means (cara untuk mencapai ends). Definisi aktivitas ekonomi terfokus pada penyebaran means untuk mencapai ends. Sedangkan fungsi ekonomi adalah untuk memenuhi kebutuhan dan kekuarangan. Pendefinisian oleh ekonomi mainstreem atau ekonomi liberal menmabahkan komponen means-ends dengan scarcity (kelangkaan) cara/sarana menuju ends. Maka oleh Paul Samuelson (1976) mengatakan bahwa fokus studi ekonomi adalah bagaimana orang dan masyarakat memilih, dengan atau tanpa menggunakan uang untuk mempergunakan sumber produksi langka yang mungkin dapat dapat digunakan sebagai alternatif untuk memproduksi berbagai komoditi dan mendistribusikanya, untuk dikonsumsi sekarang atau akan datang oleh berbagai orang dan kelompok. Penekanan terhadap kelangkaan dan memilih means (cara/sarana), mensyaratkan kita pada keinginan lebih dari batas kemampuan yang ada.
Oleh Polanyi (1977), dan Sahlin (1972) menyatakan bahwa banyak masyarakat masa lampau yang kekurangan yang tak dapat dipuaskan, dan tidak beranggapan bahwa sumber daya diperlukan untuk mencukupi berbagai kekurangan ini.
Berkaitan dengan kelangkaaan Polanyi juga mengatakan bahwa ada konflik fundamental antara apa yang ia sebut dengan definisi formal dari ekonomi yang berbasis dugaan terhadap kelangkaan sarana/cara (means) dan memandu kepada sumber daya ekonomi. Dan definisi subtantif, yaitu defenisi ekonomi berbasis bentuk kegunaan historis dalam penyebaran sumberdaya material untuk memenuhi kekurangan. Definisi formal dipakai oleh ekonomi dalam mendefinisikan ekonomi dalam arti tindakan rasional, dan definisis subtantif memaknai ekonomi sebagai sesuatu yang tampil secara intitusional dan berpusat di sekitar gagasan tentang pencapaian nafkah kehidupan.

download atikel